Ombak-ombak Parangtritis itu masih sama, tidak pernah berhenti. Berserakan tak teratur, berkeliaran tanpa ada manusia yang sudi mengurusinya. Mungkin, selain aku siang ini. Aku tendangi saja riak-riak kecil yang mengusik tempat aku berdiri. Agak aneh juga ya, biasanya di cerpen-cerpen, suasana galau di pantai itu pada sore hari, atau pada malam hari, tapi ini? Siang bro, galaunya nggak jelas banget.
Sebuah riak besar tiba-tiba datang menggulung, gilaa….aku terseret.. Basah deh. Anjrit, apa ini…baju basah, hp basah, celana se-dalamannya basah. Kompleks sudah kegalauan hari ini. Sudah tadi pagi patah hati-putus cinta, agak siang kepalaku terbentur pintu kontrakan sampai berdarah-darah, perjalanan ke pantai kena palak polisi gara-gara SIM ketinggalan, siangnya kebasahan ombak sampai hp kesayangan mati. Entah nanti apa lagi. Hahaha….
Wait, wait…kenapa ceritanyaa aku bisa lupa nggak bawa SIM? Begini, jam sepuluh tadi temenku, namanya Nina, karena dia cewek, mau ambil notebooknya yang aku perbaiki. Perbaikan gratis noh, karena sama-sama lagi dalam masa hemat, hohho.. Katanya mau cepat, ya sudah dalam posisi duduk manis pegang hape (saat itu sedang message-message-an sama *tiiit*, negosiasi gagal, hahaha…BITCH!!!!) aku berdiri, lalu bergerak keluar setengah berlari, eee…baru beberapa langkah, mendadak pandanganku gelap gulita, yang kuingat adalah bahwa aku dia bilang kena darah rendah, dan saat itu kan hari Senin ya, nah aku puasa (cieeehh). Braakk!!! Kepalaku terantuk sudut luar dinding. Nggak ada orang tau, saat aku nyerahin notebook juga sambil pegangi kepala, belum sadar aku kalo di benjolan itu mengucur darah.
Duduk di kamar, kembali pegang hape, kok ada dingin-dingin di kepala sih, ada yang basah, aku usap aja… Aku pikir itu keringat, eeehh….darah! Baaajiiiiguuurrr…. Segera setelah aku deactivate FB, aku bersihkan darahnya, kemudian ngecek FB satunya lagi yang hampir nggak pernah aku buka, lhooo…malah aku ketemu kata bitch kembali diucapkan sama*tiiit*. Hohohow….mampus kataku dalam hati kepada diriku sendiri. Kenapa aku harus dua kali lihat kata itu keluar darinya.. Ya sudah, ini FB sekalian aku matikan. Selanjutnya aku menuju pantai, dimana aku diharuskan ‘sungkem’ sama polisi dulu di Jalan Paris gara-gara ga bawa SIM plus kagak punya duit lebih dari 30 ribu.
Itu aja sih,cerita kepala berdarah itu, lumayan berlebihan, tapi dampaknya juga lumayan. Masa ke pantai Parangtritis malah masuk gang di daerah Pleret, hahaha… Sampai sekarang, kepalaku masih pusing.
Aku menjauh dari tepian pantai, duduk di gundukan pasir yang entah bikinan manusia atau bikinan putri duyung. Ngaco banget. Pandanganku menerawang, lalu memerhatikan lengan kiriku, lengan yang pernah dia cubit. Aku merindukan cubitan itu, cubitan yang tidak pernah disengaja itu, tapi siapaa, siapa dia yang aku rindu, siapa dia yang sedang aku pikirkan ini, siapaa… Kepalaku mendadak pusing berat, rasanya ada kabel-kabel organik di dalam otakku yang telah mengelupas dan menimbulkan korsleting berat. Bangor!! Pandanganku meredup dan aku ambruk ke kiri…
*
entah bagaimana ceritanya camar bisa mengecup salmon,
sementara dia terbang, sedang salmon tenggelam.
lalu di atasnya, langit. bagaimana aku bisa dengan bodoh memahami,
bintang itu melekat di sana?
kenapa awan tidak?
mungkin karena awan hanya datang, lalu pergi
hanya muncul sebagai kawan badai, lalu hilang.
kepada langit, dengan terenyuh aku katakan,
memanglah bintang itu jodohmu, bukan awan,
awan hanya datang untuk pergi,
awan hanya datang untuk membawa hujan ke bumi,
awan, datangnya hanya menutupi langit,
awan, tidak pantas untuk langit.
*
Perlahan aku buka mata, kepala masih sakit sekali. Hei…apa ini, kenapa pandanganku jadi putih semua??? Bukannya kalau orang buta itu, pandangan matanya gelap? Apa ini?

embuh iki sopo, seko google kok..