Latest Entries »

Karena …

gelisah ke mana-mana,
cerita burung-burung di hutan kampus,
mengingatkan janji yang kuingkari.

hilang canda tawa itu,
hilang canda tawa itu,
sedang masih menganggapnya masih ada,
setiap kali aku menikmati langkah demi langkah,
dari pertigaan, pagar, gang,
sendiri, tanpamu, tanpa kau tahu.

“Bila ingat kembali, pertengkaran kecil kemarin…”

tidak begitu juga,
semua egoku, semua egoku,
itu besar, sebanding dengan besarnya pertengkaran itu.

Aku minta maaf ya?
Lalu kita baikan,
ada satu ikat anggur untukmu,
segar.

Munafiknya aku, ketika aku mangatakan yang tidak sejalan dengan isi hati. Yang seharusnya aku katakan adalah bunga, bukan kaktus, sih. Sebuah lelucon basi tentang ketidaksejalanan hati dengan tindakan.

Sejenak aku kumpulkan sisa-sisa kertas yang aku urai itu. Terlanjur basah oleh gerimismu, duhai hujan, beberapa guratan huruf terlanjur luntur. Betapa…. Bagaimana akan memperbaiki janji itu, sedangkan diri lupa isinya, luntur pula tintanya? Siapa yang aku maki-maki ketika aku begini? Aku?

Tuhan tidak pernah mengajarkanku memaki-maki, ketika aku memaki kekasihku sendiri, hancurlah hatinya, murkalah Tuhan, dan Dia lebih memilih untuk memisahkan aku, dengan kekasihku, seolah Dia hendak berkata “berpisah dengannya itu sakit kan, man? Tapi kau harus tahu juga, yang kau rasakan ini tidak sebanding dengan sakit yang telah dia alami, tahan dan akhirnya dia luapkan, belum lagi kau maki itu, man…”

Jangan berlarut-larut menyalahkan diri, kata orang. Tidak tidak tidak… Tidak seperti itu juga. Aku tidak sedang menyalahkan diri, kawan, ada hal penting, bahwa pada saat Tuhan memisahkan aku dengan sesuatu yang aku cintai, Dia ingin menunjukkan betapa penting sesuatu itu bagiku. Sayang aku terlalu bodoh untuk memahami itu, sehingga itu terlewat begitu saja, sehingga itu berlalu sebagai ampas-ampas nafas.

 

Jika Kamu Mau Tau

Aku mengingatmu, seperti aku mengingat keindahan fajar, yang selalu aku sambut dengan rasa takjub. Tidak pernah bosan aku dengan perasaan itu, ia menggelegak, mendidih, dan selalu menghangatkan aku, seperti secangkir teh hangat racikan sahabatku. Perasaan ini, sungguh, tidak pernah membosankan. Jika kamu mau tahu.

Aku mengabadikanmu, seperti ketika aku mengabadikan langit terbit. Antara biru bersih, jingga menyala, dan putih terang. Terlalu indah untuk diacuhkan. Terlalu spesial untuk tidak dijaga dengan khusus. Gambar-gambar itu, aku dedikasikan untukmu. Jika kamu mau tahu.

Aku menyukaimu, entah seperti apa lagi. Ketika embun mulai turun, dini hari mulai sepi, ayam-ayam masih tertidur pulas, ketika itu akulah yang pertama kali akan mengadu tentang rasa suka ini kepada Tuhan. Aku katakan, “Tuhan yang di dalam genggamanMU-lah jiwaku dan jiwanya, dia tahu atau tidak, dia merasa atau tidak, aku ingin menghadap kepadaMU bersama-sama dengan dia di sampingku”. Jika kamu mau tahu.

Seringkali aku sambut petang sendiri, bukan karena aku galau karena telah menyukaimu. Hanya aku ingin melewatinya secara khusus, dengan senandung-senandung harapan yang tak putus, semoga kamu tidak demam, semoga kamu tidak perlu lagi diinfus. Lalu kembali nafas-nafasmu menghembus halus, sesuai irama yang kau mainkan bersama ayat-ayat kudus. Jika kamu mau tahu.

Lebih jauh lagi, aku ingin menuliskan ini untukmu. Bahwa bersama hujan terakhir, aku mengenangmu sebagai bunga terbaik. Jika kamu mau tahu.

Melankolis

Manusia2 tangguh dan terhormat.. Semua ditempa oleh kepahitan, kesulitan, ‘sakit’, dan mereka menyikapinya dengan tepat. Kepahitan dan ‘rasa sakit’ adalah sumber kekuatan, keyakinan dan kematangan bila disikapi dengan tepat.

Jangan melankolis hanya sibuk mendramatisir & menangisi keadaan, sudah nangis ya sudah segera buat lembaran baru, bisa kok!

Sesuatu yg sudah sulit jangan dipersulit lagi dg pikiran, perasaan dan sikap yg salah..

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS 94:7,8 )

Pahit/getir yg segera kembali kpd Alloh akan jadi ringan, tapi bila duniawi dan nafsu sandarannya pasti akan smakin berat.

Tuhan, Beri Aku Amnesia

Ombak-ombak Parangtritis itu masih sama, tidak pernah berhenti. Berserakan tak teratur, berkeliaran tanpa ada manusia yang sudi mengurusinya. Mungkin, selain  aku siang ini. Aku tendangi saja riak-riak kecil yang mengusik tempat aku berdiri. Agak aneh juga ya, biasanya di cerpen-cerpen, suasana galau di pantai itu pada sore hari, atau pada malam hari, tapi ini? Siang bro, galaunya nggak jelas banget.

Sebuah riak besar tiba-tiba datang menggulung, gilaa….aku terseret.. Basah deh. Anjrit, apa ini…baju basah, hp basah, celana se-dalamannya basah. Kompleks sudah kegalauan hari ini. Sudah tadi pagi patah hati-putus cinta, agak siang kepalaku terbentur pintu kontrakan sampai berdarah-darah,  perjalanan ke pantai kena palak polisi gara-gara SIM ketinggalan, siangnya kebasahan ombak sampai hp kesayangan mati. Entah nanti apa lagi. Hahaha….

Wait, wait…kenapa ceritanyaa aku bisa lupa nggak bawa SIM? Begini, jam sepuluh tadi temenku, namanya Nina, karena dia cewek, mau ambil notebooknya yang aku perbaiki. Perbaikan gratis noh, karena sama-sama lagi dalam masa hemat, hohho.. Katanya mau cepat, ya sudah dalam posisi duduk manis pegang hape (saat itu sedang message-message-an sama *tiiit*, negosiasi gagal, hahaha…BITCH!!!!) aku berdiri, lalu bergerak keluar setengah berlari, eee…baru beberapa langkah, mendadak pandanganku gelap gulita, yang kuingat adalah bahwa aku dia bilang kena darah rendah, dan saat itu kan hari Senin ya, nah aku puasa (cieeehh). Braakk!!! Kepalaku terantuk sudut luar dinding. Nggak ada orang tau, saat aku nyerahin notebook  juga sambil pegangi kepala,  belum sadar aku kalo di benjolan itu mengucur darah.

Duduk di kamar, kembali pegang hape, kok ada dingin-dingin di kepala sih, ada yang basah, aku usap aja… Aku pikir itu keringat,  eeehh….darah! Baaajiiiiguuurrr….  Segera setelah aku deactivate FB, aku bersihkan darahnya, kemudian ngecek FB satunya lagi yang hampir nggak pernah aku buka, lhooo…malah aku ketemu kata bitch kembali diucapkan sama*tiiit*. Hohohow….mampus kataku dalam hati kepada diriku sendiri. Kenapa aku harus dua kali lihat kata itu keluar darinya.. Ya sudah, ini FB sekalian aku matikan. Selanjutnya aku menuju pantai, dimana aku diharuskan ‘sungkem’ sama polisi dulu di Jalan Paris gara-gara ga bawa SIM plus kagak punya duit lebih dari 30 ribu.

Itu aja sih,cerita kepala berdarah itu, lumayan berlebihan, tapi dampaknya juga lumayan. Masa ke pantai Parangtritis malah masuk gang di daerah Pleret, hahaha… Sampai sekarang, kepalaku masih pusing.

Aku menjauh dari tepian pantai, duduk di gundukan pasir yang entah bikinan manusia atau bikinan putri duyung. Ngaco banget. Pandanganku menerawang, lalu memerhatikan lengan kiriku, lengan yang pernah dia cubit. Aku merindukan cubitan itu, cubitan yang tidak pernah disengaja itu, tapi siapaa, siapa dia yang aku rindu, siapa dia yang sedang aku pikirkan ini, siapaa… Kepalaku mendadak pusing berat, rasanya ada kabel-kabel organik di dalam otakku yang telah mengelupas dan menimbulkan korsleting berat. Bangor!! Pandanganku meredup dan aku ambruk ke kiri…

*

entah bagaimana ceritanya camar bisa mengecup salmon,

sementara dia terbang,  sedang salmon tenggelam.

lalu di atasnya, langit. bagaimana aku bisa dengan bodoh memahami,

bintang itu melekat di sana?

kenapa awan tidak?

mungkin karena awan hanya datang, lalu pergi

hanya muncul sebagai kawan badai, lalu hilang.

kepada langit, dengan terenyuh aku katakan,

memanglah bintang itu jodohmu, bukan awan,

awan hanya datang untuk pergi,

awan hanya datang untuk membawa hujan ke bumi,

awan, datangnya hanya menutupi langit,

awan, tidak pantas untuk langit.

*

Perlahan aku buka mata, kepala masih sakit sekali. Hei…apa ini, kenapa pandanganku jadi putih semua??? Bukannya kalau orang buta itu, pandangan matanya gelap? Apa ini?

embuh iki sopo, seko google kok..

embuh iki sopo, seko google kok..